Saturday, February 14, 2026
HomeFilmWaktu Maghrib 2: Watchable but Forgettable

Waktu Maghrib 2: Watchable but Forgettable

Waktu Maghrib 2: Watchable but Forgettable

Tak bisa dipungkiri bahwa Waktu Maghrib 2 hadir dengan sebuah beban sekaligus tantangan besar: bagaimana membangkitkan kembali atmosfer mencekam yang sukses membekas lewat film pertamanya, dan membawanya naik satu level lebih tinggi dalam horor lokal berbasis mitos.

Sekuel yang dirilis pada 28 Mei 2025 ini menandai babak baru dari teror Jin Ummu Sibyan yang dikenal publik sejak film pertamanya menyita perhatian pecinta horor di tanah air. Kali ini, narasi kembali digulirkan dengan lebih dalam, lebih kelam, namun juga lebih terbuka pada interpretasi.

Atmosfer Kultural yang Menghantui

Waktu Maghrib bukan sekadar judul; ia adalah simbol budaya yang punya resonansi emosional kuat bagi masyarakat Indonesia. Larangan keluar rumah saat waktu maghrib bukan mitos asing — ia hidup dalam cerita orang tua kita, dalam peringatan-peringatan sederhana yang sering diabaikan namun menyimpan makna psikologis mendalam.

Di sinilah kekuatan Waktu Maghrib 2 mulai terasa. Ia tidak menjual ketakutan ala Barat. Tidak ada rumah berhantu dengan latar gotik, tidak ada jumpscare murahan. Yang ada hanyalah suasana desa yang sunyi, anak-anak sekolah dengan ekspresi tak tertebak, dan jin perempuan yang namanya bergetar di antara bisikan penduduk desa: Ummu Sibyan.

Respons Penonton: Antara Harapan dan Kritik

Di media sosial banyak postingan yang menunjukkan tingkat antisipasi tinggi. Di sisi lain, beberapa kekurangan yang cukup krusial. Salah satunya adalah perkembangan karakter yang dianggap minim. Beberapa penonton merasa tidak cukup waktu diberikan untuk membangun hubungan emosional dengan tokoh-tokohnya. Alhasil, ketika teror datang, simpati yang seharusnya muncul pun terasa hambar.

Kritik lainnya adalah pada pacing atau ritme cerita yang dinilai terlalu lambat di awal. Meskipun hal ini umum dalam genre horor untuk membangun tensi, Waktu Maghrib 2 tampaknya terlalu lama dalam menggantungkan ketegangan — sebuah pedang bermata dua yang bisa membuat penonton terjebak antara rasa penasaran dan rasa bosan.

Namun, bukan berarti film ini kehilangan pesonanya. Justru, akting para pemeran muda berhasil mencuri perhatian. Rasa takut yang mereka tampilkan terasa otentik, tidak dibuat-buat. Ditambah lagi, tata sinematografi yang memainkan cahaya alami dan bayangan panjang khas senja, berhasil mempertegas suasana mistis yang kental.

Kesimpulan: Film Horor Lokal yang Layak Dirayakan

Waktu Maghrib 2 bukanlah film yang sempurna. Ia punya kekurangan, terutama dari aspek storytelling yang bisa lebih tajam. Namun, kelebihan utamanya — yakni atmosfer kultural yang khas, akting solid dari pemain muda, serta pendekatan horor yang tidak generik — menjadikannya satu langkah maju dalam horor Indonesia.

Lebih dari sekadar sekuel, film ini adalah refleksi bagaimana horor lokal bisa mengakar dari tradisi dan berkembang menjadi tontonan dengan kualitas visual dan narasi yang layak bersaing. Untuk sineas lokal, ini adalah momentum. Untuk penonton, ini adalah undangan untuk kembali percaya bahwa ketakutan terbaik tak selalu datang dari hantu luar negeri, tapi justru dari lorong sunyi kampung kita sendiri — tepat saat azan maghrib berkumandang.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments