Saturday, February 14, 2026
HomeFilmThunderbolts: Ketika Superhero Berbicara tentang Kesehatan Mental

Thunderbolts: Ketika Superhero Berbicara tentang Kesehatan Mental

Bayangkan sebuah dunia di mana para pahlawan super bukanlah sosok sempurna yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Dunia di mana mereka pun bisa merasa cemas, bersalah, bahkan kehilangan arah. Inilah yang ditawarkan oleh film Thunderbolts (2025), film terbaru dari Marvel Studios yang sukses mengguncang layar lebar dengan pendekatan yang jauh lebih dewasa dibandingkan pendahulunya di Marvel Cinematic Universe (MCU).

Jika selama ini kita mengenal pahlawan seperti Captain America atau Iron Man sebagai figur kuat yang siap menyelamatkan dunia kapan pun dibutuhkan, Thunderbolts memperkenalkan sosok-sosok yang rapuh, penuh luka, dan masih berjuang melawan bayang-bayang masa lalu mereka. Mereka bukanlah pahlawan dalam definisi klasik. Mereka adalah antihero—sekelompok mantan penjahat dan tentara bermasalah—yang dipaksa bekerja sama demi misi yang lebih besar. Tapi di balik aksi-aksi heroik mereka, ada cerita manusiawi yang menyentuh dan sangat relevan dengan realita kita hari ini: perjuangan menghadapi trauma dan kesehatan mental.

Lebih dari Sekadar Aksi

Dari menit-menit awal film, penonton langsung disuguhkan nuansa yang berbeda. Suasana gelap, intens, dan emosional mengalir seiring pengenalan karakter-karakter utama seperti Yelena Belova, John Walker, Bucky Barnes, hingga Ghost. Masing-masing membawa beban emosional yang tak ringan. Yelena, misalnya, masih dibayang-bayangi oleh masa lalunya sebagai Black Widow dan perasaan kehilangan atas kakaknya, Natasha. Sementara John Walker terus dihantui oleh rasa bersalah atas keputusan kelam yang membuatnya dicopot dari gelar Captain America.

Namun, alih-alih hanya menjadi latar belakang, isu-isu psikologis ini justru menjadi jantung cerita Thunderbolts. Penonton diajak menyelami pikiran para karakter, melihat bagaimana mereka menyembunyikan luka dengan sarkasme, ledakan emosi, atau justru sikap diam. Hal ini membuat film terasa lebih intim dan personal, jauh dari sekadar aksi kejar-kejaran atau ledakan CGI.

Menggugah, Relevan, dan Manusiawi

Salah satu kekuatan terbesar Thunderbolts adalah keberaniannya menampilkan sisi rapuh dari para karakter. Ini bukan semata-mata strategi dramatis, tapi sebuah pengakuan bahwa bahkan mereka yang terlihat kuat pun bisa terjatuh. Dalam beberapa adegan, terlihat bagaimana Ghost—yang selama ini digambarkan sebagai karakter pendiam dan misterius—akhirnya membuka diri, menunjukkan ketakutannya akan ketidakstabilan tubuhnya, dan keputusasaan karena merasa tidak ada tempat baginya di dunia ini.

Film ini juga memberikan ruang bagi dialog tentang trauma, penebusan, dan pentingnya dukungan sosial. Tanpa menggurui, Thunderbolts memperlihatkan bagaimana rasa percaya satu sama lain tumbuh perlahan di antara para karakter, dan bagaimana hal itu bisa menjadi kunci untuk penyembuhan. Ini adalah narasi yang kuat, tidak hanya bagi mereka yang menyukai film superhero, tapi juga bagi siapa pun yang sedang berjuang dalam hidupnya.

MCU dengan Napas Baru

Dengan arah penyutradaraan Jake Schreier yang lebih fokus pada pengembangan karakter, Thunderbolts menjadi angin segar di tengah dunia superhero yang semakin dipenuhi formula yang repetitif. Film ini tidak takut untuk mengambil risiko—meninggalkan formula klasik demi menjelajah tema yang lebih mendalam dan menyentuh.

Banyak kritikus memuji keberanian Marvel dalam mengangkat tema kesehatan mental secara eksplisit. Bahkan, beberapa menyebut Thunderbolts sebagai karya paling “dewasa” dalam MCU. Ini bukan berarti filmnya kehilangan elemen aksi—justru adegan pertempuran yang ada terasa lebih bermakna karena penonton telah memahami konflik batin para tokohnya.

Penutup: Superhero Juga Butuh Diselamatkan

Thunderbolts bukan sekadar film tentang sekelompok orang yang menyelamatkan dunia. Ini adalah film tentang orang-orang yang mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri. Dan justru di situlah letak kekuatannya.

Dalam dunia nyata, kita semua mungkin pernah merasa gagal, bersalah, atau tidak cukup baik. Melalui karakter-karakternya, Thunderbolts mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa untuk merasa lemah. Bahwa menyembuhkan diri sendiri bisa jadi perjuangan paling heroik yang pernah kita lakukan.

Jadi, jika Anda mencari film superhero dengan sentuhan emosional dan makna mendalam, Thunderbolts adalah tontonan yang layak untuk dinikmati. Siapa tahu, mungkin Anda akan keluar dari bioskop bukan hanya terhibur—tetapi juga sedikit lebih berdamai dengan diri sendiri.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments