Dusun Mayit menarik bukan karena “desa gaib”-nya, melainkan karena ia menguji satu pertanyaan yang sedang dikejar industri horor Indonesia: apakah adaptasi thread viral bisa melahirkan bahasa sinema baru, atau hanya mengemas ulang sensasi bacaan menjadi paket jump scare dan mitologi instan? Film ini menempatkan Hitmaker Studios—dengan Rizal Mantovani di kursi sutradara dan Rocky Soraya sebagai produser—pada jalur yang familiar sekaligus riskan: memindahkan horor “narasi internet” ke layar lebar tanpa kehilangan ketegangan psikologis yang membuat versi teksnya meledak.
Visi sutradara: ambisi “horor petualangan” yang tidak selalu konsisten
Dari sisi positioning, Dusun Mayit jelas tidak ingin menjadi horor “rumah berhantu” yang statis. Ia bergerak ke hibrida adventure–horror berdurasi sekitar 1 jam 35 menit, dengan latar pendakian dan ruang alam sebagai mesin ketegangan. Ini keputusan yang tepat secara konsep: lanskap pegunungan memberi skala visual dan peluang set-piece yang lebih sinematik daripada koridor gelap yang sudah terlalu sering dipakai.
Masalahnya, konsistensi visi itu belum sepenuhnya terkunci. Mantovani—yang rekam jejaknya panjang di horor arus utama—tampak ingin menyeimbangkan atmosfer folklor dengan ritme “event movie” akhir tahun. Di beberapa bagian, ia berhasil memeras rasa genting dari ruang terbuka: jarak, kabut, dan isolasi menjadi ancaman yang lebih meyakinkan daripada sosok hantu yang datang “on cue”. Namun di bagian lain, film kembali ke perangkat horor yang terlalu dikenali—membuat ketegangan terasa seperti rangkaian puncak kecil, bukan eskalasi yang organik.
Penyutradaraan, sinematografi, editing: kuat pada atmosfer, goyah pada ritme
Keunggulan teknis film ini terutama berada pada pembangunan atmosfer: pemilihan lokasi (atau rekayasa lokasi) yang memanfaatkan mitos Gunung Welirang sebagai latar memberi legitimasi budaya sekaligus nilai produksi. Dalam konteks horor lokal, keputusan menggeser “ruang teror” ke medan alam adalah langkah yang relatif progresif—minimal secara visual.
Namun, editing dan manajemen ritme kerap menjadi titik rawan. Adaptasi dari thread biasanya punya pola: build-up cepat, cliffhanger berkala, dan payoff yang sering berupa “reveal”. Di layar lebar, pola itu menuntut penataan ulang agar bukan sekadar episodik. Dusun Mayit tampak masih menyisakan jejak struktur bacaan—sehingga beberapa transisi terasa seperti memindahkan paragraf ke adegan, bukan memahat adegan dari kebutuhan dramatik.
Naskah dan struktur naratif: di sinilah adaptasi thread paling diuji
Kredit penulis skenario tertera atas nama Riheam Junianti, dan material dasarnya berasal dari thread viral karya JeroPoint. Ini penting, karena kekuatan thread horor umumnya terletak pada voice pencerita dan “kedekatan realis”—detail kecil yang terasa mungkin terjadi. Ketika masuk film, voice itu harus diganti dengan dramaturgi visual: motivasi karakter, kausalitas, serta progres konflik yang dapat dipercaya.
Film ini cukup efektif membangun premis “perjalanan yang salah belok” dan menanamkan sinyal bahaya melalui ritual, tanda-tanda, dan tabu lokal. Tetapi begitu memasuki wilayah teror utama, film cenderung mengandalkan intensifikasi stimulus—alih-alih memperdalam logika horor. Pada titik tertentu, “desa gaib” menjadi arena untuk rangkaian kejutan, bukan sistem dunia yang punya aturan jelas. Akibatnya, rasa takut bekerja secara instan, tetapi tidak selalu meninggalkan resonansi setelah adegan selesai.
Performa aktor: lebih sebagai strategi casting ketimbang pendalaman karakter
Secara casting, film ini memilih wajah-wajah yang kuat untuk pasar luas: Amanda Manopo, Ersya Aurelia, Fahad Haydra, Randy Martin. Mereka menjalankan fungsi utama horor petualangan: menjadi “badan” yang mengalami bahaya dan memandu penonton melewati set-piece. Beberapa momen menunjukkan komitmen fisik (pendakian, kelelahan, kepanikan) yang membantu meyakinkan situasi produksi—bahkan diberitakan sebagai proses syuting yang menuntut.
Namun karakterisasi masih cenderung fungsional: masing-masing tokoh ada untuk mengisi dinamika grup dan memicu keputusan-keputusan plot. Ini bukan kelemahan fatal dalam horor arus utama, tetapi ia membatasi intensitas emosional—karena penonton tidak diberi cukup alasan untuk takut kehilangan mereka, selain sekadar takut pada ancaman.
Konteks industri: Hitmaker, tren horor 2025–2026, dan ekonomi “viral IP”
Dusun Mayit datang pada saat horor Indonesia sudah memasuki fase industrial: IP (Intellectual Property) berbasis mitos lokal, ritual, dan “desa terkutuk” menjadi komoditas yang teruji, sementara “viral story” menawarkan jalur pemasaran organik sebelum trailer rilis. Film ini terang-terangan bermain di ranah itu—dipasarkan sebagai adaptasi thread yang pernah ramai.
Secara komersial, per 1 Januari 2026 (sehari setelah rilis bioskop 31 Desember 2025), angka penonton/box office yang terverifikasi luas oleh sumber industri arus utama belum terlihat dominan di kanal informasi publik; wajar, karena jendela rilisnya sangat dekat. Yang lebih relevan untuk dibaca saat ini adalah konteks kompetisinya: akhir tahun biasanya padat judul, dan film seperti ini mengandalkan kombinasi brand sutradara/produser + daya tarik IP viral untuk menembus noise.
Kesimpulan editorial: kemajuan parsial, tetapi masih kompromi pada bahasa sinema
Dalam lanskap horor Indonesia, Dusun Mayit adalah kemajuan parsial: ia mencoba memperluas panggung horor ke ranah petualangan alam dan memanfaatkan kapital budaya (mitos, ritual, tabu) untuk memberi tekstur lokal. Tetapi sebagai adaptasi thread viral, film ini masih menunjukkan kompromi yang tipikal: ketegangan bacaan yang tajam tidak selalu diterjemahkan menjadi struktur sinema yang rapi, dan ia terlalu sering kembali ke perangkat kejutan yang aman.
Bagi Hitmaker Studios dan Rizal Mantovani, film ini lebih tepat dibaca sebagai langkah menjaga relevansi dalam ekonomi IP viral—bukan lompatan estetika. Ia bekerja sebagai hiburan horor arus utama, namun belum cukup berani (atau disiplin secara naskah) untuk mengubah cara genre ini bercerita. Jika industri ingin menjadikan “thread” sebagai tambang IP jangka panjang, pelajarannya jelas: yang dibutuhkan bukan sekadar memindahkan kisah ke lokasi syuting, tetapi membangun ulang bahasa dramatik yang membuat horor hidup di layar, bukan hanya di timeline.