Setelah hampir tiga dekade beraksi, Ethan Hunt kembali dalam Mission: Impossible – The Final Reckoning, sebuah penutup epik yang menggabungkan aksi menegangkan dengan kedalaman emosional yang jarang terlihat dalam franchise ini.
Dalam dunia sinema aksi, sedikit waralaba yang memiliki konsistensi, intensitas, dan dedikasi seperti Mission: Impossible. Sejak pertama kali tayang pada 1996, sosok Ethan Hunt telah menjelma menjadi ikon ketangguhan, keberanian, dan pengorbanan. Kini, hampir tiga dekade kemudian, Mission: Impossible – The Final Reckoning hadir bukan hanya sebagai sekuel, tetapi sebagai klimaks emosional yang memaknai perjalanan panjang Hunt—sebuah epilog yang tidak hanya keras dan eksplosif, tetapi juga manusiawi.
Ketika Dunia Di Ambang Kekacauan
Dalam bab terakhir ini, dunia diguncang oleh ancaman tak kasat mata: kecerdasan buatan bernama The Entity yang telah menyusup ke dalam sistem informasi global. Disinformasi berkembang pesat, negara-negara bersenjata nuklir mulai kehilangan kendali, dan batas antara kebenaran dan manipulasi semakin kabur.
Presiden Amerika Serikat, Erika Sloane (Angela Bassett), meminta Ethan Hunt (Tom Cruise) untuk menyerahkan kunci kontrol terhadap The Entity. Namun, Ethan menolak. Ia percaya bahwa tidak satu pun negara, organisasi, atau individu seharusnya memegang kekuasaan sebesar itu. Dari sinilah misi pamungkas dimulai—bukan sekadar menyelamatkan dunia, tetapi menyelamatkan makna dari kata “percaya”.
Dedikasi Fisik yang Nyaris Mustahil
Tom Cruise sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar aktor utama, melainkan elemen utama dari jiwa film ini. Dalam The Final Reckoning, ia melakukan sendiri hampir seluruh aksi berisiko tinggi—termasuk adegan mengejar pesawat dengan biplane klasik dalam posisi terbalik, tanpa bantuan CGI mencolok.
Salah satu sekuens paling mendebarkan adalah saat Ethan menyelam dalam sebuah reaktor bawah laut untuk menggagalkan peluncuran rudal. Bukan hanya aksi yang membuat jantung berdegup, tapi juga ketegangan emosional yang melingkupi setiap pilihan yang harus ia ambil—antara menyelamatkan dunia atau menyelamatkan orang yang ia cintai.
Lelah, Rapuh, dan Tetap Teguh
Apa yang membuat film ini menonjol bukan hanya skala aksinya, tetapi juga kedalaman psikologis karakter utama. Ethan Hunt bukan lagi sekadar agen super yang tak terkalahkan. Ia digambarkan lebih manusia—lelah, penuh luka batin, dan dihantui oleh masa lalu.
Dalam beberapa adegan, Tom Cruise tampil nyaris telanjang emosi. Wajahnya menua, tapi matanya tetap menyala oleh tekad. Ia adalah seorang prajurit yang tak lagi mengejar kemenangan, melainkan mencari penebusan.
Tim yang Tak Tergantikan
Kehadiran kembali karakter-karakter pendukung ikonik seperti Luther Stickell (Ving Rhames) dan Benji Dunn (Simon Pegg) memberi bobot emosional yang kuat. Hayley Atwell sebagai Grace juga tampil memikat—pintar, lincah, dan menjadi kontras sempurna bagi Ethan yang mulai kehilangan arah.
Angela Bassett sebagai Presiden AS membawa karisma kuat, memperkaya dinamika politik dalam cerita. Penampilan ensemble cast ini memberi film ini rasa kebersamaan—sebuah misi yang tak lagi dijalankan sendirian.
Akhir yang Menyentuh, Bukan Sekadar Ledakan
The Final Reckoning disambut tepuk tangan meriah selama lebih dari tujuh menit di Festival Film Cannes 2025—sebuah testimoni bahwa film ini tak hanya memenuhi ekspektasi sebagai blockbuster, tapi juga sebagai karya sinema yang menyentuh sisi eksistensial manusia.
Skor 89% di Rotten Tomatoes menegaskan posisi film ini di antara film aksi terbaik tahun ini. Para kritikus memuji keberanian film ini dalam mengeksplorasi sisi batin Ethan Hunt, sementara tetap menyajikan aksi yang adrenalin-pumping.
Kesimpulan: Sebuah Epilog yang Layak Dikenang
Sebagai seorang penulis ulasan film yang telah mengikuti perjalanan Ethan Hunt sejak misi pertamanya, saya bisa berkata dengan yakin: Mission: Impossible – The Final Reckoning adalah pencapaian sinematik yang langka. Ia menggabungkan aksi brilian dengan kedalaman karakter, menyajikan perpisahan yang tidak hanya megah, tetapi juga menyentuh.
Ini bukan sekadar akhir dari misi. Ini adalah akhir dari sebuah era.