Apakah Kafir: Gerbang Sukma merupakan kelanjutan artistik yang relevan bagi semesta horor Kafir, atau justru contoh bagaimana horor Indonesia terjebak antara ambisi tematik dan tuntutan pasar? Pertanyaan ini menjadi kunci untuk membaca film terbaru Azhar Kinoi Lubis tersebut—sebuah karya yang tidak kekurangan gagasan, namun kerap kehilangan ketegasan visi.
Visi Sutradara: Lebih Dalam, Tapi Kurang Tajam
Sejak Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018), Azhar Kinoi Lubis memosisikan horor bukan sekadar wahana kejutan, melainkan medium untuk membicarakan dosa, trauma, dan warisan spiritual. Gerbang Sukma mencoba melangkah lebih jauh dengan memperluas spektrum tema ke wilayah spiritualitas, penebusan, dan konflik batin lintas generasi.
Masalahnya, perluasan ini tidak diimbangi dengan penyederhanaan fokus. Film terasa ingin berbicara tentang terlalu banyak hal sekaligus—mistisisme, karma, relasi ibu-anak, hingga kritik sosial implisit—tanpa satu garis tematik yang benar-benar dominan. Alih-alih memperdalam semesta Kafir, film ini kerap tampak ragu menentukan pusat gravitasinya sendiri.
Penyutradaraan dan Teknis: Kompeten, Namun Konservatif
Secara teknis, Kafir: Gerbang Sukma menunjukkan standar produksi yang solid. Sinematografi mengandalkan palet warna kusam dan pencahayaan minimalis yang efektif membangun atmosfer muram, meski jarang menawarkan visual yang benar-benar ikonik. Kamera cenderung aman, dengan komposisi konvensional yang patuh pada pakem horor arus utama.
Editing menjadi salah satu titik lemah. Ritme film tidak konsisten—beberapa segmen terlalu panjang untuk muatan dramatisnya, sementara momen-momen horor justru dipotong terlalu cepat. Ketegangan yang seharusnya terakumulasi sering tereduksi oleh transisi yang terburu-buru atau pengulangan pola teror yang mudah ditebak.
Naskah dan Struktur: Ambisi Tematik yang Terfragmentasi
Naskah Gerbang Sukma memperlihatkan ambisi untuk bergerak dari horor eksternal menuju horor internal. Sayangnya, struktur naratifnya tidak cukup disiplin untuk menopang ambisi tersebut. Konflik emosional tokoh utama sering kali hanya berfungsi sebagai jembatan menuju adegan teror berikutnya, bukan sebagai fondasi dramatik yang organik.
Dialog cenderung eksposisional, seolah tidak sepenuhnya percaya pada kekuatan visual dan performa aktor untuk menyampaikan makna. Ini memperlemah potensi film sebagai horor psikologis yang berlapis, dan menempatkannya kembali ke wilayah horor naratif yang aman dan familiar.
Performa Aktor: Fungsional, Bukan Transformatif
Para aktor menjalankan perannya dengan disiplin profesional, namun jarang diberi ruang untuk performa yang benar-benar transformatif. Karakter-karakter dibangun lebih sebagai simbol atau fungsi naratif ketimbang individu dengan kompleksitas psikologis yang utuh. Ini sejalan dengan kecenderungan film yang lebih menekankan konsep dibanding eksplorasi karakter.
Dalam konteks strategi artistik, pendekatan ini dapat dimengerti, tetapi konsekuensinya adalah keterlibatan emosional penonton yang terbatas—terutama bagi mereka yang mengharapkan evolusi karakter signifikan dari film pertama.
Konteks Industri: Di Antara Horor Religius dan Pasar Massal
Secara industri, Kafir: Gerbang Sukma hadir di tengah tren horor Indonesia yang semakin tersegmentasi: antara horor religius-mistis, horor psikologis, dan horor hiburan murni. Film ini jelas memilih jalur pertama, namun berusaha membungkusnya dengan estetika yang cukup ramah pasar.
Pilihan ini mencerminkan posisi Starvision dan Azhar Kinoi Lubis yang tampaknya ingin menjaga kredibilitas tematik tanpa mengorbankan jangkauan komersial. Namun kompromi tersebut menghasilkan film yang berada di wilayah tengah—cukup serius untuk disebut “bermakna”, tetapi terlalu berhati-hati untuk benar-benar mengguncang lanskap genre.
Evaluasi Editorial: Kemajuan Konseptual, Stagnasi Eksekusi
Sebagai sekuel, Kafir: Gerbang Sukma menunjukkan kemajuan pada level niat dan gagasan, tetapi stagnasi—bahkan kemunduran—dalam ketegasan eksekusi. Film ini tidak gagal, namun juga tidak cukup berani untuk menjadi penanda evolusi horor Indonesia berbasis spiritual.
Penutup
Dalam konteks industri horor nasional, Kafir: Gerbang Sukma lebih tepat dibaca sebagai kompromi kreatif: sebuah upaya menjaga relevansi tematik tanpa sepenuhnya melepaskan diri dari formula yang sudah terbukti. Ia menegaskan bahwa horor Indonesia masih kaya akan ide, tetapi juga menunjukkan batas-batas keberanian ketika visi artistik harus bernegosiasi dengan ekspektasi pasar.