Lima tahun setelah kekacauan besar yang mengubah hubungan manusia dan dinosaurus selamanya, dunia kini berada di titik genting. Di tengah bayang-bayang konflik antara kekuatan korporat dan konservasi alam, sebuah misi rahasia membawa sekelompok individu ke sebuah pulau yang sudah lama dianggap terlarang—Île Saint-Hubert.
Zora Bennett, agen lapangan dengan masa lalu misterius, ditugaskan untuk memimpin ekspedisi mematikan demi mengambil sesuatu yang sangat berharga dari pulau tersebut. Tapi ia tak sendirian. Pulau itu menyimpan lebih dari sekadar binatang buas; ada kehidupan, rahasia, dan pertanyaan besar tentang masa depan umat manusia dan makhluk purba yang telah bangkit kembali.
Dengan latar penuh bahaya dan keindahan yang menipu, Jurassic World: Rebirth mengajak penonton dalam sebuah perjalanan penuh ketegangan, keajaiban, dan dilema moral. Ini bukan sekadar pertarungan antara manusia dan dinosaurus—ini tentang apa arti “evolusi” dalam dunia yang telah berubah selamanya.
Kembali ke Akar, Maju dengan Gaya Baru
Disutradarai oleh Gareth Edwards (Rogue One, The Creator), Jurassic World: Rebirth menandai babak baru setelah penutupan trilogi Dominion. Cerita ini mengikuti Zora Bennett (Scarlett Johansson), seorang agen operasi rahasia, dalam misinya mengumpulkan DNA dari tiga spesies dinosaurus paling mematikan di sebuah pulau terlarang—Île Saint-Hubert. Perjalanan tersebut tak hanya berbahaya secara fisik, tetapi juga emosional ketika ia bertemu dengan keluarga Delgado yang terdampar di sana.
Dalam gaya visual yang sinematik dan atmosferik, Edwards membawa kita ke dalam suasana petualangan klasik yang terasa seperti pertemuan antara Jurassic Park dan Indiana Jones, namun tetap membumi dalam konteks kekinian.
Performa Para Pemeran: Magnet Emosional Film
Scarlett Johansson memberi Zora Bennett karakterisasi yang tangguh, tetapi juga rentan—sebuah kombinasi langka dalam film aksi modern. Ia ditopang oleh Jonathan Bailey yang karismatik sebagai Dr. Loomis, dan Mahershala Ali yang tampil memukau sebagai tentara bayaran dengan agenda pribadi.
Luna Blaise dan Audrina Miranda sebagai anggota keluarga Delgado juga memberi dimensi kemanusiaan yang menyegarkan. Isabella, anak bungsu berusia 11 tahun, digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan pemberani. Dalam film, ia menjalin ikatan dengan seekor dinosaurus kecil yang ia beri nama “Dolores.” Hubungan ini mencerminkan tema klasik Jurassic Park tentang koneksi antara manusia dan makhluk prasejarah, serta menyoroti kepolosan dan rasa ingin tahu anak-anak dalam menghadapi dunia yang penuh bahaya. Meski demikian, sayangnya tidak semua karakter pendukung mendapat ruang berkembang. Beberapa dari mereka hanya berfungsi sebagai pelengkap narasi. Demikian juga humor yang dihadirkan, terasa “garing” dan tidak cukup memecah ketegangan justru terasa dipaksakan dan tidak sesuai dengan tone film secara keseluruhan.
Monster Baru, Ketegangan Baru
Dinosaurus mutan seperti Mutadon dan Distortus rex menjadi daya tarik visual sekaligus horor yang nyata. Desain makhluk-makhluk ini mencerminkan keberanian tim kreatif untuk keluar dari pakem. Namun, tidak semua adegan CGI terasa mulus. Beberapa efek tampak sedikit terlalu “polished”, seolah kehilangan kesan berat dan bahaya fisikal yang dulu melekat pada animatronik era awal Spielberg.
Walau begitu, atmosfer pulau dan eksekusi ketegangan—terutama dalam sekuen malam hari—berhasil mencengkeram penonton dengan intensitas yang jarang dijumpai sejak The Lost World (1997).
Kelemahan: Potensi yang Belum Sepenuhnya Tercapai
Sayangnya, plot Rebirth masih bermain aman. Struktur cerita cenderung linear dan meminjam formula khas waralaba: misi – ancaman – pelarian – konfrontasi – pelarian lagi. Dalam komunitas film seperti Reddit dan Letterboxd, beberapa penonton merasa bahwa film ini kehilangan kesempatan untuk menggali kedalaman tema bioetika atau ekologi yang sempat disinggung.
Ditambah lagi, batasan rating PG-13 membuat film ini tidak mampu sepenuhnya menggali sisi horor yang telah dibangun. Terasa ada rem di tengah potensi penuh gigi dan darah.
Celah Pasar & Potensi Inovasi Franchise
Menariknya, diskusi di forum-forum niche seperti MovieChat dan Letterboxd mengindikasikan adanya permintaan untuk pendekatan yang lebih berani dalam waralaba ini — andai Jurassic World: Rebirth berani mengambil langkah drastis dengan mengantongi rating R atau 17+, hasil akhirnya bisa saja menjadi salah satu babak paling mengguncang dalam sejarah waralaba dinosaurus ini—bukan sekadar kebangkitan visual, tapi juga kebangkitan atmosfer yang benar-benar mencekam dan dewasa. Bayangkan adegan-adegan pengejaran di hutan gelap tak lagi dibatasi oleh sensor. Gigi yang merobek daging, tangisan yang tidak dipotong oleh fade-to-black, dan napas terakhir yang terekam dalam hening yang panjang. Inilah dunia yang bisa saja kita lihat dalam Jurassic World: Rebirth versi R-rated—versi yang tidak memalingkan wajah dari kekejaman alam maupun sisi gelap manusia.
Dengan makin matangnya audiens dan beragamnya platform distribusi, Universal tampaknya memiliki peluang untuk menghadirkan spin-off atau side-story yang lebih “niche”, menggali narasi dari sudut pandang ilmuwan, warga sipil, atau bahkan perspektif militer.
Kesimpulan: Rebirth adalah Uji Nyali yang Berhasil, Tapi Belum Revolusioner
Jurassic World: Rebirth berhasil menyuntikkan nafas segar ke dalam tubuh waralaba yang sempat kehilangan arah. Ia bukan revolusi, tapi sebuah rekonstruksi yang menjanjikan.
Waralaba Jurassic selama ini bermain di jalur aman demi penonton keluarga—dan itu bisa dimengerti secara komersial. Tapi Rebirth menyimpan potensi laten sebagai film yang bukan hanya menegangkan, tetapi juga menghantui. Sayangnya, dengan rating PG-13, sebagian dari potensi itu harus disterilkan. Namun demikian, dengan rating PG-13 yang menyasar sebagai ‘film keluarga’, Jurrassic World: Rebirth ini berhasil menyuguhkan tontonan seru nan menghibur.
Bagi penggemar lama, ini adalah nostalgia yang dibungkus dengan tensi modern. Bagi penonton baru, ini adalah perkenalan yang cukup menggigit. Namun untuk benar-benar menjadi mahakarya, waralaba ini harus berani menyeberangi batas nyaman dan menggali sisi gelap manusia—bukan hanya dinosaurus.