
sumber: instagram @filmgundik
Industri film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tampak berani bermain di ranah genre. Bukan hanya dari segi teknis, tetapi juga dalam mengeksplorasi tema-tema lokal yang dekat dengan spiritualitas dan kebudayaan masyarakat. Dalam konteks ini, Gundik, garapan terbaru Anggy Umbara, muncul sebagai sebuah percobaan yang menggoda. Menggabungkan unsur horor, heist, dan komedi, film ini menjanjikan pengalaman menonton yang tidak biasa.
Namun seperti banyak film yang mengambil risiko besar, hasil akhirnya pun memicu perdebatan. Apakah Gundik berhasil menyatukan elemen-elemen tersebut dalam satu narasi yang solid? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.
Dari Rencana Perampokan ke Dunia Mistis
Gundik membuka ceritanya dengan cukup konvensional: Otto (Agus Kuncoro), mantan tentara yang baru bebas dari penjara, kecewa mendapati anak perempuannya menikah diam-diam dengan Baim (Maxime Bouttier), pria yang dianggap tak layak. Didorong kebutuhan ekonomi dan rasa frustrasi, Otto menerima tawaran perampokan dari seorang kenalan.
Ia tak sendiri—bersama Baim, Reza (Arief Didu), dan Salman (Dian Sidik), Otto menargetkan sebuah rumah mewah milik wanita kaya bernama Nyai (Luna Maya), yang dikenal sebagai mantan gundik pejabat tinggi. Tapi misi ini dengan cepat berubah menjadi kekacauan penuh teror ketika kekuatan tak kasat mata mulai mengusik satu per satu dari mereka.
Di titik inilah Gundik menunjukkan kekuatannya: atmosfer mencekam, rumah bergaya Jawa dengan ornamen spiritual yang sarat simbolisme, dan permainan cahaya yang lihai membangun suasana. Desain suara dan sinematografi memperkuat kesan bahwa para tokoh tidak sekadar mencuri harta, tapi telah menerobos batas dunia yang tak boleh diganggu.
Visual Apik, Komedi Tepat Sasaran
Sebagai sutradara, Anggy Umbara terkenal dengan sentuhan visual dan ritme cepat yang khas. Hal itu sangat terasa di Gundik. Penonton dibawa masuk ke dunia yang penuh teka-teki, dengan visual rumah megah yang indah sekaligus menakutkan. Kesan mistis dibangun bukan dari jump scare berlebihan, melainkan dari ketegangan psikologis yang perlahan namun pasti.
Unsur komedi yang disisipkan, terutama lewat karakter Reza dan Salman, tidak merusak suasana. Justru menjadi penyegar di tengah ketegangan. Dialog ringan dan satir sosial muncul tanpa terkesan dipaksakan. Dalam konteks ini, Gundik sukses menghadirkan hiburan yang berimbang antara horor dan tawa.
Karakterisasi yang Kurang Tertuntaskan
Namun sayangnya, kekuatan visual dan dinamika kelompok perampok tidak diimbangi dengan pengembangan karakter utama yang memadai. Sosok Nyai, yang semestinya menjadi pusat narasi, terasa seperti bayangan yang samar. Luna Maya memang tampil menawan dan misterius, tetapi naskah tampak enggan memberi ruang lebih untuk menggali latar belakang dan motivasi tokohnya.
Yang cukup mengejutkan, Gundik menyajikan plot twist yang efektif—sebuah kejutan yang menyentak penonton dan mengubah cara kita memandang cerita sebelumnya. Sayangnya, kejutan ini tidak dibarengi dengan pendalaman naratif yang mendukungnya secara emosional. Kematian Nyai, misalnya, disajikan begitu cepat dan minim penjelasan. Padahal, dengan latar mitologis yang menyelimuti karakternya, ada banyak yang bisa dikupas: mengapa ia menjadi gundik, kekuatan apa yang ia miliki, dan apa sebenarnya tujuannya.
Akibatnya, momen yang seharusnya menjadi klimaks emosional justru terasa datar. Banyak penonton—terutama yang berharap mendapat kisah mendalam tentang perempuan sakti yang menyimpan dendam atau trauma—harus puas dengan interpretasi visual tanpa narasi yang kuat.
Simbolisme Lokal yang Belum Sepenuhnya Diterjemahkan
Tidak dapat dipungkiri bahwa Gundik mencoba mengangkat mitos lokal, terutama yang berkaitan dengan Nyi Roro Kidul dan kepercayaan spiritual masyarakat pesisir selatan Jawa. Ini langkah yang menarik dan jarang diangkat dalam konteks film horor-komedi. Namun, dalam eksekusinya, pendekatan ini tampak ragu-ragu.
Alih-alih menyajikan tokoh Nyai sebagai representasi kompleks dari perempuan yang terpinggirkan namun memiliki kekuatan simbolik, film ini justru lebih memilih jalur aman: menjadikannya sosok hantu cantik penuh teka-teki, tanpa penjelasan yang berarti. Hal ini menyebabkan narasi kehilangan bobot filosofis yang sebetulnya berpotensi kuat.
Akhir yang Menggantung dan Rasa Kurang Puas
Menuju penghujung film, ritme mulai terasa melemah. Konflik antartokoh menurun intensitasnya, dan penyelesaian cerita terjadi begitu cepat tanpa elaborasi yang memadai. Beberapa subplot yang semula menjanjikan, seperti ketegangan antara Otto dan Baim atau ketakutan pribadi para perampok, dibiarkan menggantung. Akhir film tidak benar-benar menuntaskan rasa penasaran penonton—justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.
Sebagai hasilnya, Gundik, yang pada awalnya dibangun dengan atmosfer yang kuat dan ide segar, terasa kehilangan arah di babak akhirnya. Cerita yang menjanjikan transformasi justru terhenti di ambang potensi.
Penutup: Sebuah Upaya Berani yang Setengah Jalan
Sebagai kritikus film yang telah mengamati perkembangan sinema nasional selama lebih dari dua dekade, saya melihat Gundik sebagai karya yang penting—bukan karena kesempurnaannya, tapi karena keberaniannya. Ini adalah film yang mencoba menembus batas genre, mengangkat mitos lokal, dan menyajikannya dalam format yang bisa dinikmati penonton umum.
Sayangnya, keberanian ini tidak dibarengi konsistensi dalam penulisan naskah. Karakter utama yang tak tergarap maksimal, klimaks yang melempem, dan akhir cerita yang terburu-buru membuat film ini terasa seperti janji yang belum lunas.
Namun jika Anda mencari tontonan yang segar, dengan sentuhan horor lokal yang unik dan selipan humor yang cerdas, Gundik tetap layak untuk disaksikan. Ia menghibur, memikat secara visual, dan—yang paling penting—memicu diskusi tentang bagaimana sinema Indonesia bisa mengolah kekayaan budayanya ke dalam bentuk yang lebih utuh di masa depan.