Saturday, February 14, 2026
HomeReviewsDari Seoul ke Dunia: Bagaimana G-DRAGON IN CINEMA Mengubah Konser Menjadi...

Dari Seoul ke Dunia: Bagaimana G-DRAGON IN CINEMA [Übermensch] Mengubah Konser Menjadi Pernyataan Budaya Global

Film konser yang membawa energi G-Dragon ke layar lebar. Sebuah karya sinematik lintas budaya yang mengguncang dunia — penuh filosofi, visual, dan makna.

Sebuah Konser yang Menjadi Film Sinema Dunia

Setelah delapan tahun, ikon generasi ini kembali dengan tur dunia yang epik — ÜBERMENSCH.
Setiap ketukan, setiap napas, setiap momen yang akan memberi definisi baru pada karyanya kini hadir di layar lebar.

Dari lagu-lagu yang pernah mengguncang dunia — “Crooked,” “POWER,” “Heartbreaker” — hingga daftar lagu hit paling ikonisnya, G-Dragon membawa energi yang sama besarnya seperti masa kejayaannya.
Ia ditemani oleh jajaran bintang tamu ternama seperti Taeyang, Daesung, CL, dan banyak lagi.
Penonton diajak untuk merasakan energi, semangat, dan keajaiban yang tak bisa diulang, kini melalui teknologi SCREENX, 4DX, dan ULTRA 4DX yang imersif.

Rilis pada 29 Oktober 2025 di lebih dari 50 negara, G-DRAGON IN CINEMA [Übermensch] bukan hanya dokumentasi tur dunia, tetapi sebuah karya sinematik berskala global.
Film ini memadukan sinematografi, musik, dan performa teater dengan produksi visual yang mendobrak batas genre.
Dengan sistem suara Dolby Atmos dan format multi-layar, pengalaman menontonnya terasa bukan seperti konser, tetapi seperti memasuki dunia batin sang artis.

G-Dragon dan Gelombang Globalisasi Budaya Korea

Dalam dua dekade terakhir, dunia menyaksikan bagaimana gelombang Hallyu mengubah Korea Selatan dari konsumen menjadi produsen budaya global.
Musik, drama, mode, bahkan filosofi hidup Korea kini menjadi soft power — alat diplomasi budaya yang efektif.

Di tengah arus itu, G-Dragon menempati posisi unik. Ia bukan hanya musisi, tapi arsitek budaya pop modern.
Melalui G-DRAGON IN CINEMA, ia menampilkan bukan hanya panggung, tapi bahasa visual yang merepresentasikan identitas Asia modern: kreatif, eksperimental, dan intelektual.

Perpaduan Timur dan Barat di Panggung Übermensch

Konsep Übermensch diambil dari filsafat Friedrich Nietzsche — manusia yang berani menciptakan nilai baru.
G-Dragon menerjemahkan gagasan itu ke dalam bentuk seni lintas budaya.

Di satu sisi, kita melihat pengaruh Barat: musik hip-hop, filosofi eksistensial, teknologi sinema mutakhir.
Di sisi lain, akar Timur tetap hadir lewat simbolisme spiritual, warna monokrom khas Korea, dan struktur pertunjukan yang menyerupai ritual penyucian diri.

Hasilnya adalah konser-film yang berdialog antara dua dunia, membuktikan bahwa seni Asia kini mampu berbicara dalam bahasa universal.

Dari Idol Menjadi Ikon Budaya Global

Sejak debut bersama BIGBANG, G-Dragon sudah dikenal sebagai seniman yang melampaui batas industri musik.
Ia menyatukan mode avant-garde, seni konseptual, dan eksperimen musik ke dalam satu persona.

G-DRAGON IN CINEMA menjadi puncak transformasi itu — dari idol K-Pop menjadi ikon budaya dunia.
Visual yang teatrikal, koreografi eksentrik, serta narasi introspektif memperlihatkan seorang seniman yang menolak dibatasi oleh label “idola”.

Bioskop sebagai Ruang Baru Soft Power Korea

Fenomena film konser global seperti BTS: Yet to Come dan Taylor Swift: The Eras Tour menunjukkan bahwa bioskop kini menjadi panggung diplomasi budaya.
G-DRAGON IN CINEMA mengambil langkah serupa dengan skala lebih eksperimental.

Melalui jaringan bioskop internasional seperti CGV dan IMAX, film ini memperluas jangkauan K-Pop ke audiens non-fans.
Hasilnya bukan sekadar penjualan tiket, tetapi penyebaran nilai budaya Korea: disiplin, kreativitas, dan keberanian melampaui batas.

Lebih dari Sebuah Konser

Menonton G-DRAGON IN CINEMA berarti menyaksikan evolusi seni pertunjukan Asia.
Film ini menghadirkan pertanyaan universal:

“Bagaimana manusia menghadapi ekspektasi publik dan tetap menjadi dirinya sendiri?”

Baik Anda penggemar K-Pop, pecinta film, atau penikmat seni visual, film ini mengajak penonton untuk merenungkan makna menjadi manusia di era global — dengan gaya, suara, dan warna yang tak terlupakan.

Kesimpulan

G-DRAGON IN CINEMA [Übermensch] bukan hanya film konser; ini adalah manifesto globalisasi budaya Asia.
Dari Seoul hingga Jakarta, dari panggung hingga layar lebar, karya ini menegaskan bahwa seni pop dapat menjadi bahasa universal tentang perubahan, identitas, dan kebebasan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments