Pendahuluan
Film Rangga & Cinta (2025) karya Riri Riza hadir bukan sekadar sebagai sekuel spiritual dari Ada Apa Dengan Cinta? (2002), melainkan sebagai refleksi baru tentang bagaimana generasi modern memahami cinta dan keberadaan diri.
Dalam versi ini, cinta tidak lagi digambarkan sebagai kisah romansa yang bergelora, tetapi sebagai perjalanan batin untuk menemukan makna keberadaan manusia.
Melalui bahasa visual yang simbolik, puisi yang kontemplatif, dan musik yang menyentuh, film ini mengajak penontonnya merenungi pertanyaan paling mendasar: siapa diri kita ketika mencintai, dan apa arti menjadi manusia yang utuh?
Cinta sebagai Jalan Menuju Keberadaan
Secara filosofis, film ini berakar pada pemikiran eksistensialisme — khususnya gagasan Jean-Paul Sartre bahwa “eksistensi mendahului esensi.”
Rangga dan Cinta adalah dua individu yang berjuang keluar dari definisi sosial yang menekan mereka.
Rangga, seorang penyair muda yang pendiam dan sering merasa terasing, memilih diam bukan karena lemah, tetapi karena dunia terlalu bising untuk mendengar suara hatinya.
Sementara Cinta, remaja populer yang hidup di bawah sorotan sosial, berjuang melawan topeng kesempurnaan yang dipaksakan oleh lingkungan.
Pertemuan mereka bukan kebetulan, melainkan momen eksistensial — saat dua jiwa yang kehilangan arah saling menjadi cermin.
Rangga menemukan keberanian untuk terbuka, sementara Cinta menemukan ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa tuntutan.
Dari sini, film menunjukkan bahwa cinta bukan tentang saling melengkapi, tetapi tentang saling menyadarkan keberadaan.
Keheningan sebagai Bahasa Jiwa
Keheningan dalam film ini memiliki kedalaman makna yang jarang ditemukan dalam film remaja.
Riri Riza menampilkan banyak adegan tanpa dialog — hanya tatapan, langkah kaki, atau bayangan bulan.
Keheningan bukan ruang kosong, tetapi ruang untuk hadir sepenuhnya.
Menurut pemikiran Martin Heidegger, manusia hanya bisa memahami keberadaannya (being) melalui kesadaran terhadap waktu dan diam.
Rangga mewakili keheningan itu — ia tidak banyak bicara, tetapi melalui puisinya, ia menyalurkan pemahaman terdalam tentang hidup.
Puisi “Kepada Bulan” dan “Aku Menemu Diriku di Matamu” menjadi simbol kesadaran manusia yang baru lahir: bahwa dalam diam, seseorang justru menemukan dirinya.
Cinta yang semula takut pada kesunyian akhirnya belajar bahwa diam juga bisa berarti memahami.
Ia tidak lagi menakuti ruang hening tanpa validasi sosial, sebab di sanalah ia bisa benar-benar mendengar dirinya sendiri.
Autentisitas dan Keberanian untuk Rentan
Film ini juga memuat pesan humanistik yang kuat, sejalan dengan pemikiran Carl Rogers tentang autentisitas diri.
Rogers berpendapat bahwa kebahagiaan sejati hanya muncul ketika seseorang hidup sesuai dengan perasaannya yang paling jujur.
Cinta mengalami transformasi dari sosok perfeksionis menjadi pribadi yang autentik.
Ia menangis, marah, dan jujur pada dirinya sendiri — sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan karena takut tidak disukai.
Sementara itu, Rangga menghadapi ketakutan yang lebih halus: takut dipahami.
Ketika akhirnya ia membiarkan Cinta membaca puisinya, ia sebenarnya sedang membuka bagian paling rapuh dari dirinya.
Momen ini memperlihatkan keberanian emosional yang jarang diperlihatkan laki-laki dalam narasi populer.
Cinta mengajarkan Rangga untuk merasa, dan Rangga mengajarkan Cinta untuk diam — keduanya bertukar keberanian untuk menjadi manusia yang utuh.
Cinta Sebagai Relasi Spiritual: “Aku–Engkau”
Filsuf Martin Buber menyebut cinta sejati sebagai hubungan “I–Thou” (Aku–Engkau), bukan “I–It” (Aku–Itu).
Hubungan “Aku–Engkau” terjadi ketika dua manusia bertemu tanpa topeng, tanpa ambisi untuk mengubah, hanya saling mengakui keberadaan.
Hubungan Rangga dan Cinta adalah bentuk dialog spiritual semacam itu.
Mereka tidak saling menguasai, tidak saling menjanjikan keabadian, tapi saling mengizinkan satu sama lain untuk tumbuh.
Adegan penutup ketika mereka bernyanyi bersama dalam lagu “Biar Kau Mengerti” memperlihatkan jenis cinta yang matang — cinta yang tidak menuntut kepemilikan, melainkan menghormati perjalanan masing-masing.
Seperti bulan yang tetap bersinar meski jaraknya jauh, mereka menyadari bahwa kedekatan batin tidak selalu membutuhkan kedekatan fisik.
Makna Filosofis: Menjadi Manusia yang Sadar
Pada akhirnya, film Rangga & Cinta (2025) berbicara tentang kesadaran.
Kesadaran bahwa manusia bukan hanya makhluk sosial, tetapi juga makhluk yang berpikir dan merasa secara mendalam.
Cinta di era modern sering kali kehilangan makna karena tereduksi menjadi eksposur, validasi, dan algoritma.
Film ini mengajak kita untuk kembali pada esensi: bahwa mencintai berarti menyadari — diri, orang lain, dan dunia.
Cinta sejati bukan tentang memiliki seseorang, tapi tentang memahami makna keberadaannya.
Dan ketika seseorang mampu mencintai tanpa menuntut, ia telah mencapai bentuk tertinggi dari kemanusiaan: kesadaran diri yang penuh.
Penutup
Rangga & Cinta (2025) adalah refleksi puitis tentang eksistensi manusia di tengah dunia yang serba cepat dan bising.
Lewat dua tokohnya, film ini menunjukkan bahwa cinta bisa menjadi ruang penyembuhan dan pencarian makna hidup.
Bahwa dalam kesunyian, manusia justru menemukan kedalaman; dalam kejujuran, ia menemukan keutuhan; dan dalam perpisahan, ia menemukan ketenangan.
Film ini tidak memberi akhir bahagia dalam arti konvensional, tetapi menghadirkan sesuatu yang lebih berharga:
kesadaran bahwa cinta sejati bukan ketika dua manusia saling memiliki, melainkan ketika keduanya saling membantu menemukan dirinya sendiri.