Apakah Alas Roban benar-benar memperluas kemungkinan horor Indonesia, atau justru menegaskan kecenderungan industri yang semakin aman bermain di wilayah mitologi tanpa keberanian eksplorasi sinematik? Pertanyaan ini penting karena film ini lahir di tengah fase krusial horor lokal: genre paling laku secara komersial, namun juga paling rentan terjebak repetisi.
Tanpa berlama-lama pada sinopsis, Alas Roban mengandalkan mitos hutan angker di jalur Pantura sebagai fondasi naratif. Pilihan ini secara konseptual menjanjikan—lokasi yang sarat memori kolektif, cerita urban legend, dan trauma perjalanan. Namun sejak awal, film ini memperlihatkan dilema utamanya: antara memanfaatkan kekuatan lokalitas secara sinematik atau sekadar menjadikannya ornamen eksotis yang mudah dijual.
Visi Sutradara: Ambisi Atmosfer, Minim Pendalaman
Dari sisi penyutradaraan, Alas Roban jelas menempatkan atmosfer sebagai prioritas utama. Sutradara tampak ingin membangun rasa tidak nyaman yang perlahan, bukan horor instan berbasis kejutan. Sayangnya, visi ini tidak sepenuhnya konsisten dieksekusi. Banyak adegan dibiarkan berlarut tanpa eskalasi dramatik yang berarti, seolah mengandalkan lokasi dan suara alam sebagai substitusi ketegangan naratif.
Sinematografi menjadi salah satu kekuatan relatif film ini. Penggunaan cahaya minim, framing hutan yang menekan, serta komposisi ruang yang sempit cukup efektif membangun rasa terisolasi. Namun, editing yang kurang disiplin membuat ritme film terasa tidak stabil—beberapa momen seharusnya dipadatkan, sementara konflik emosional justru tidak diberi ruang yang cukup untuk berkembang.
Naskah: Ketika Mitos Tidak Diterjemahkan Menjadi Konflik Dramatis
Masalah paling krusial Alas Roban terletak pada naskahnya. Film ini memiliki bahan mitologis yang kaya, tetapi gagal menerjemahkannya menjadi struktur dramatik yang kuat. Karakter-karakter hadir lebih sebagai fungsi naratif daripada individu dengan motivasi dan konflik internal yang jelas.
Dialog cenderung eksposisional, seolah takut membiarkan visual dan situasi berbicara sendiri. Ketegangan tidak dibangun melalui pilihan moral atau psikologis tokoh, melainkan melalui pola horor yang sudah terlalu familiar di pasar: suara aneh, kemunculan sosok, dan repetisi ancaman tanpa perkembangan makna.
Akibatnya, mitos Alas Roban tidak pernah benar-benar menjadi subjek kritik atau refleksi—ia hanya latar seram yang digunakan untuk memicu rasa takut sesaat.
Performa Aktor: Profesional, Tapi Tidak Transformatif
Dari sisi akting, para pemeran menjalankan perannya dengan standar profesional yang layak. Tidak ada performa yang benar-benar gagal, namun juga tidak ada yang menonjol secara artistik. Ini bukan semata kesalahan aktor, melainkan konsekuensi dari karakterisasi yang tipis.
Para aktor tidak diberi cukup ruang untuk membangun spektrum emosi yang kompleks. Dalam konteks strategi artistik, casting film ini terasa aman—cukup untuk memenuhi ekspektasi pasar, tetapi tidak diarahkan untuk menciptakan interpretasi karakter yang berisiko atau mengejutkan.
Konteks Industri: Horor sebagai Mesin Komersial
Secara industri, Alas Roban berada di jalur yang sangat jelas. Horor lokal masih menjadi genre paling konsisten mendatangkan penonton bioskop Indonesia. Film ini mengikuti pola produksi yang relatif efisien: lokasi kuat, mitos dikenal, biaya terkontrol, dan potensi pemasaran yang jelas.
Namun di sinilah persoalan besarnya. Ketika horor terus diperlakukan sebagai mesin komersial yang aman, ruang untuk eksperimen artistik semakin menyempit. Alas Roban tidak gagal secara pasar, tetapi juga tidak menawarkan pembaruan signifikan terhadap bahasa horor lokal—baik dari sisi naratif, visual, maupun tematik.
Dalam lanskap global, horor justru berkembang melalui keberanian mengambil risiko, seperti terlihat pada tren elevated horror atau eksplorasi trauma sosial. Alas Roban memilih tidak masuk ke wilayah tersebut.
Evaluasi Kritis: Efektif, Tapi Terlalu Patuh
Sebagai produk hiburan, Alas Roban bekerja. Ia cukup menegangkan, cukup rapi, dan cukup relevan secara budaya lokal. Namun sebagai karya sinema, film ini terlalu patuh pada formula yang sudah terbukti.
Tidak ada upaya serius untuk mengganggu kenyamanan penonton atau mempertanyakan ulang mitos yang diangkat. Ketakutan yang ditawarkan bersifat permukaan, bukan reflektif. Ini membuat film terasa lebih sebagai pemenuhan permintaan pasar ketimbang pernyataan artistik.
Kesimpulan
Alas Roban adalah contoh horor Indonesia yang kompeten tetapi kompromistis. Ia tidak bisa disebut kemunduran, namun jelas bukan kemajuan signifikan. Film ini menegaskan stagnasi kreatif yang mulai mengintai genre horor lokal: ketika mitos dijadikan komoditas, bukan bahan eksplorasi sinematik.
Jika industri terus berada di jalur ini, horor Indonesia berisiko kehilangan relevansi jangka panjang—bukan karena kekurangan penonton, tetapi karena kehabisan keberanian untuk berkembang.