Pendahuluan: Jangan Tertipu Poster Romantis
Poster film ini menipu. Anda melihat seragam rapi dan wajah tampan Jerome Kurnia. Anda mengharapkan drama perselingkuhan klise. Anda salah besar. “Penerbangan Terakhir” bukan tentang cinta terlarang. Film ini adalah studi kasus horor tentang manipulasi.
Sutradara Benni Setiawan tidak menyajikan romansa. Dia menyajikan sebuah penjara emosional di udara. Film ini membongkar sisi gelap industri penerbangan dengan brutal. Fokus utamanya bukan pada skandal seks. Fokusnya adalah ketimpangan kekuasaan yang mematikan antara pilot dan pramugari.
Deva Angkasa dan Seni Memangsa Korban
Kapten Deva Angkasa (Jerome Kurnia) bukan sekadar pria hidung belang. Dia adalah manipulator ulung. Dia mendekati Tiara (Nadya Arina) dengan strategi matang. Deva membanjiri Tiara dengan perhatian berlebih sejak awal. Dia mengirim bunga, pesan manis, dan janji surga.
Taktik ini dikenal sebagai love bombing. Penonton harus jeli melihat ini sebagai bendera merah, bukan keromantisan. Deva membangun ketergantungan emosional dengan cepat. Tiara yang naif tidak punya kesempatan untuk berpikir jernih.
Jerome Kurnia layak mendapat pujian. Dia berhasil membuat penonton merasa tidak nyaman di balik senyumnya yang menawan. Karismanya adalah senjata utamanya. Dia mengubah sosok pahlawan penerbangan menjadi mimpi buruk yang nyata.
Seragam sebagai Alat Penindasan
Hierarki dalam dunia penerbangan sangat kaku. Pilot duduk di puncak rantai makanan. Awak kabin sering kali hanya dianggap pelengkap. Film ini mengeksploitasi celah itu dengan sangat cerdas. Anda melihat Deva bukan hanya sebagai kekasih. Dia adalah atasan langsung yang memegang kendali nasib karir Tiara.
Hubungan mereka tidak pernah setara sejak awal. Deva memiliki empat bar emas di pundaknya. Simbol itu memberinya kuasa mutlak di udara. Tiara tidak punya ruang untuk berkata tidak. Menolak keinginan Deva sama saja dengan menantang kapten. Risiko ini terlalu besar bagi seorang pramugari muda. Deva sadar betul akan hal ini. Dia menggunakan jabatannya sebagai senjata untuk membungkam Tiara.
Situasi ini menciptakan penjara tak kasat mata. Tiara terperangkap dalam dilema profesional. Jika dia melawan pelecehan emosional itu, reputasi kerjanya hancur. Deva bisa dengan mudah memutarbalikkan fakta. Ini adalah potret nyata budaya senioritas yang toksik. Banyak korban memilih diam demi menjaga periuk nasi mereka. Sutradara berhasil memvisualisasikan ketakutan ini tanpa perlu banyak dialog. Tatapan dingin Deva dari balik pintu kokpit sudah cukup menjelaskan semuanya.
Gaslighting, Senjata Tak Kasat Mata
Kekerasan tidak selalu meninggalkan memar fisik. Deva membuktikan hal itu. Dia menggunakan kata-kata sebagai senjatanya. Pujian manis di awal berubah menjadi kritik pedas. Dia mengontrol cara Tiara berpakaian. Dia mengatur dengan siapa Tiara boleh bicara. Perlahan namun pasti, Deva mengikis rasa percaya diri Tiara.
Teknik manipulasi ini disebut gaslighting. Deva membuat Tiara meragukan kewarasannya sendiri. Saat Tiara marah, Deva menyebutnya “terlalu sensitif”. Saat Tiara bertanya, Deva menuduhnya “tidak percaya”. Tiara akhirnya merasa bersalah atas kesalahan yang tidak dia buat. Dia meminta maaf untuk hal yang tidak dia lakukan. Ini adalah bentuk penyiksaan mental yang brutal.
Nadya Arina pantas mendapat pujian khusus di sini. Dia menerjemahkan kehancuran mental itu dengan sangat detail. Anda bisa melihat sorot matanya yang perlahan redup. Dia terlihat lelah dan ketakutan sepanjang waktu. Benni Setiawan memperkuat ini dengan pengambilan gambar yang sempit. Penonton ikut merasa sesak. Kita dipaksa merasakan klaustrofobia yang Tiara rasakan.
Kesimpulan: Cermin Retak Bagi Kita Semua
“Penerbangan Terakhir” berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Film ini tidak terjebak menjadi sinetron murahan. Benni Setiawan menyajikan sebuah studi kasus yang mengerikan namun penting. Kita diajak melihat realitas gelap di balik senyum ramah awak kabin. Film ini menelanjangi ketimpangan kuasa yang sering kita abaikan.
Anda tidak perlu menyukai karakternya untuk menghargai film ini. Jerome Kurnia dan Nadya Arina memberikan penampilan kelas atas. Mereka menghidupkan mimpi buruk itu dengan sangat meyakinkan. Ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang menormalisasi hubungan kerja tidak sehat. Pesannya jelas dan tidak menggurui.
Tontonlah film ini. Jangan hanya mencari sensasi skandalnya. Perhatikan tanda-tanda kecil manipulasi yang ditampilkan. Pelajari bagaimana “cinta” bisa berubah menjadi penjara. Pengetahuan itu mungkin bisa menyelamatkan Anda atau teman Anda suatu hari nanti. Apakah Anda pernah melihat dinamika serupa di tempat kerja Anda? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar.