Saturday, February 14, 2026
HomeTVIT: Welcome to Derry (Mid-Season): Lebih dari Sekadar Badut

IT: Welcome to Derry (Mid-Season): Lebih dari Sekadar Badut

Ulasan midsession: Serial ini membuktikan bahwa horor sesungguhnya bukanlah sang badut, melainkan kota Derry itu sendiri.

Di tengah maraknya waralaba yang terus dieksplorasi, pertanyaan “Apakah kita benar-benar membutuhkan prekuel IT?” menjadi sangat relevan. Skeptisisme yang mengiringi pengumuman serial IT: Welcome to Derry di Max (sebelumnya HBO Max) sangat beralasan. Banyak yang khawatir serial ini hanya akan menjadi pengulangan formula atau eksploitasi berlebih terhadap sosok ikonik Pennywise.

Kini, setelah empat dari total delapan episode tayang, ulasan pertengahan musim (mid-season review) ini hadir untuk menjawab keraguan tersebut. Serial horor yang mengambil latar tahun 1962 ini telah membuktikan bahwa ia memiliki cerita yang jauh lebih substansial dan kelam untuk ditawarkan.

Memang, kembalinya Bill Skarsgård sebagai Pennywise tetap menjadi pilar teror yang sama menakutkannya. Namun, IT: Welcome to Derry dengan cerdas mengungkap bahwa horor sesungguhnya bukanlah sang badut. Teror yang paling mengakar dan mencekam justru adalah kota Derry itu sendiri—beserta sejarah kelam dan kejahatan manusiawi yang bersembunyi di baliknya.

Badut Itu Memang Masih Mengerikan

Mari kita luruskan satu hal: daya tarik utama yang membawa audiens kembali ke kota terkutuk ini adalah sosok Pennywise. Kembalinya Bill Skarsgård untuk memerankan kembali entitas kuno tersebut adalah sebuah keharusan, dan performanya di empat episode pertama ini sama sekali tidak mengecewakan.

Skarsgård, sekali lagi, membuktikan keunggulannya dalam menghadirkan teror fisik dan psikologis. Setiap kemunculannya—baik yang hanya sekilas dalam bayangan maupun dalam wujud penuh yang mengganggu—berhasil meningkatkan tensi secara instan. Dia tidak kehilangan sedikit pun aura mencekam yang membuatnya begitu ikonik dalam dua film layar lebar sebelumnya. IT: Welcome to Derry paham betul bahwa sosok ini adalah jangkar supernatural dari waralaba IT.

Namun, ada perbedaan fundamental dalam pendekatannya kali ini. Serial ini tidak mengeksploitasi Pennywise secara berlebihan. Alih-alih menjadikannya satu-satunya sumber ketakutan, Welcome to Derry memposisikannya sebagai gejala paling mengerikan dari penyakit yang jauh lebih tua; sebuah manifestasi fisik dari kejahatan yang telah meracuni kota Derry selama berabad-abad. Dia menakutkan, tetapi serial ini segera memberi tahu kita bahwa dia bukanlah satu-satunya hal yang perlu ditakuti.

Rasisme Tahun 1960-an

Jika Pennywise adalah teror supernatural yang bersembunyi dalam kegelapan, maka IT: Welcome to Derry menghadirkan horor lain yang tak kalah menakutkan: kejahatan manusiawi yang terjadi di bawah sinar matahari. Ini adalah inti dari argumen “lebih dari sekadar badut” tersebut, dan di sinilah letak kekuatan terbesar serial ini dalam empat episode pertamanya.

Kekuatan ini berpusat pada alur cerita orang dewasa, khususnya yang menimpa Major Leroy Hanlon (diperankan dengan kuat oleh Isaiah Mustafa) dan istrinya, Charlotte. Sebagai keluarga kulit hitam yang baru saja pindah ke Derry yang didominasi kulit putih pada tahun 1962 karena penugasan militer, mereka tidak hanya harus berhadapan dengan entitas kosmik kuno. Mereka dihadapkan pada horor sosial yang sangat nyata: rasisme yang mengakar, sistemik, dan terang-terangan.

Serial ini dengan berani dan tanpa tedeng aling-aling mengeksplorasi bagaimana diskriminasi dan kebencian yang dihadapi keluarga Hanlon—baik dari warga kota, rekan kerja di pangkalan militer, maupun aparat penegak hukum—seringkali terasa lebih mencekam daripada penampakan Pennywise. Ini adalah jenis kejahatan yang tidak membutuhkan topeng badut; ia beroperasi secara terbuka, didukung oleh struktur sosial yang korup.

Welcome to Derry secara efektif menegaskan bahwa “It” (Pennywise) dapat tumbuh subur dan berpesta di kota itu karena warga Derry sendiri telah meracuni lingkungan mereka dengan kebencian, trauma, dan sikap apatis terhadap kebrutalan.

Konspirasi & Mitologi

Pilar horor kedua yang dieksplorasi Welcome to Derry adalah arogansi institusional dan perluasan mitologi yang jauh lebih kelam. Jika di film-film sebelumnya kita hanya melihat “It” sebagai monster yang memangsa anak-anak, serial ini mengungkap bahwa institusi orang dewasa yang korup secara aktif berusaha memanfaatkannya.

Alur cerita ini berpusat pada Pangkalan Angkatan Udara Derry, yang dipimpin oleh General Shaw. Terungkap bahwa Shaw memiliki trauma pribadi dengan “It” yang berasal dari pertemuannya di tahun 1935. Namun, alih-alih berusaha menghancurkannya, Shaw kini terobsesi untuk mengubah entitas jahat tersebut menjadi “Senjata” biologis yang dapat digunakan dalam Perang Dingin.

Ini adalah bentuk kejahatan yang berbeda: kesombongan manusia yang berpikir bahwa mereka dapat memahami dan mengendalikan kejahatan kosmik murni untuk tujuan geopolitik. Untuk melacak “It”, pihak militer bahkan merekrut seorang prajurit dengan kemampuan psikis yang kuat: Dick Hallorann.

Ya, ini adalah Dick Hallorann yang sama dari novel The Shining. Keterlibatannya tidak hanya berfungsi sebagai fan service yang cerdas untuk menghubungkan “Semesta Stephen King”, tetapi juga menjadi kunci naratif. Melalui “Shining” miliknya, serial ini mulai mengungkap asal-usul Pennywise yang sesungguhnya—legenda kuno Suku Asli Amerika tentang “The Galloo”, sebuah entitas yang tiba di Bumi jutaan tahun lalu dan dipenjara di bawah tanah Derry.

“The Losers’ Club” Baru dan Tempo Cerita

Tentu saja, IT tidak akan lengkap tanpa sekelompok anak-anak pemberani yang bersepeda keliling kota untuk menyelidiki misteri. Welcome to Derry memperkenalkan kita pada kelompok protagonis muda yang baru, kali ini dipimpin oleh Lilly Bainbridge. Mereka secara tak terelakkan hidup di bawah bayang-bayang besar “The Losers’ Club” yang ikonik dari film IT: Chapter One.

Harus diakui, setelah empat episode, chemistry di antara kelompok baru ini belum sepenuhnya solid seperti pendahulu mereka. Namun, ini adalah kritik minor mengingat fokus naratif serial ini yang jauh lebih terbagi antara alur cerita anak-anak dan alur cerita dewasa yang kompleks.

Hal ini membawa kita pada kritik umum yang mungkin dilontarkan pada serial ini: tempo ceritanya yang lambat (slow burn). Memang benar, Welcome to Derry tidak terburu-buru. Ini bukanlah film horor berdurasi dua setengah jam yang penuh dengan jump scare. Ini adalah sebuah drama horor serial yang secara metodis membangun atmosfer kota yang membusuk dari dalam.

Tempo yang lebih lambat ini adalah sebuah pilihan sadar yang krusial. Serial ini membutuhkan waktu untuk “bernapas”, membiarkan penonton merasakan tekanan dari rasisme di tahun 1962, memahami seluk-beluk konspirasi militer, dan benar-benar peduli pada nasib karakter-karakter barunya sebelum melepaskan teror Pennywise sepenuhnya.

Putusan Tengah Musim

Memasuki paruh kedua musimnya, IT: Welcome to Derry telah berhasil membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar cash grab atau nostalgia belaka. Serial ini dengan tegas menegaskan kembali tesisnya: Pennywise mungkin adalah monster yang ikonik, namun kejahatan sesungguhnya adalah kebobrokan moral, trauma antargenerasi, dan kebencian manusiawi yang telah lama mengakar di kota Derry.

Dengan memadukan secara brilian teror supernatural Bill Skarsgård dengan horor sosial yang nyata—mulai dari rasisme era 1962 hingga arogansi konspirasi militer—serial ini menawarkan substansi dan kedalaman yang mungkin tidak terduga oleh banyak penonton.

Putusan tengah musim ini sangat jelas: IT: Welcome to Derry adalah tontonan wajib bagi penggemar horor yang mencari cerita cerdas. Ini adalah sebuah drama horor yang ditulis dengan sabar, dieksekusi dengan atmosfer padat, dan yang terpenting, memiliki sesuatu yang relevan untuk disampaikan.

Paruh kedua musim ini menyisakan pertanyaan-pertanyaan besar yang menegangkan: Akankah rencana General Shaw untuk mempersenjatai “It” justru menjadi bumerang yang menghancurkan? Dan sanggupkah kelompok Lilly Bainbridge mengungkap kebenaran tanpa menjadi korban berikutnya dari “The Galloo” yang kini telah terbangun? Kita tunggu saja.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments