Saturday, February 14, 2026
HomeFilmSukma: Baim Wong dan Obsesi Keabadian

Sukma: Baim Wong dan Obsesi Keabadian

Review Film Sukma 2025: Horor Psikologis Baim Wong tentang Obsesi Keabadian

Poster film Sukma 2025 karya Baim Wong
Poster resmi film horor Sukma (2025) karya Baim Wong dengan Luna Maya, Christine Hakim, dan Fedi Nuril.

Pendahuluan

Film Sukma karya Baim Wong yang resmi tayang di bioskop Indonesia pada 11 September 2025, hadir sebagai salah satu film horor yang tidak hanya menjual ketegangan dan teror supranatural. Lebih dari itu, film ini membawa penonton pada perenungan mendalam mengenai obsesi manusia terhadap kecantikan, keabadian, dan kehidupan yang “sempurna”. Film Sukma (2025) menjadi sorotan sejak dirilis pada 11 September 2025. Disutradarai sekaligus diproduseri oleh Baim Wong, film horor psikologis ini menghadirkan kisah mencekam yang tidak hanya berfokus pada teror supranatural, tetapi juga pada kritik sosial mengenai obsesi manusia terhadap kecantikan dan keabadian. Dengan jajaran aktor papan atas seperti Luna Maya, Christine Hakim, Fedi Nuril, dan Oka Antara, Sukma sukses memadukan horor, drama keluarga, dan refleksi sosial yang relevan. Dengan durasi sekitar 108 menit, Sukma berhasil menyatukan unsur horor, drama keluarga, dan kritik sosial dalam satu rangkaian cerita yang sarat makna.

Kisah Sukma berpusat pada Arini (Luna Maya), seorang ibu yang baru bercerai dan mencoba memulai hidup baru bersama Pram (Oka Antara) dan anaknya. Mereka pindah ke rumah baru di sebuah kota kecil untuk mencari ketenangan. Namun, ketenangan itu hancur ketika mereka menemukan cermin kuno di ruang tersembunyi rumah tersebut.

Cermin Kuno dan Simbol Obsesi

Pusat teror dalam film ini berawal dari penemuan sebuah cermin kuno di rumah baru keluarga Arini (Luna Maya). Cermin tersebut bukan hanya sekadar benda antik, melainkan simbol dari keinginan manusia untuk melihat dan mempertahankan versi terbaik dirinya. Dalam budaya modern, cermin sering kali dikaitkan dengan standar kecantikan dan citra diri.

Perempuan dan Tekanan Sosial

Karakter Arini dan Ibu Sri (Christine Hakim) merepresentasikan dilema perempuan dalam menghadapi standar sosial. Arini yang baru saja menjalani perceraian mencoba memulai hidup baru, namun dihantui oleh tekanan batin dan tuntutan untuk tetap kuat di depan anak-anaknya. Di sisi lain, sosok Ibu Sri digambarkan penuh misteri, seolah menjadi representasi generasi yang terjebak dalam keinginan mempertahankan citra diri dan status sosial.

Horor sebagai Kritik Sosial

Uniknya, Sukma tidak menggunakan horor sekadar untuk menakut-nakuti. Teror gaib, suara misterius, dan penampakan hanyalah medium untuk menyingkap lapisan psikologis yang lebih dalam. Ketakutan terbesar dalam film ini justru lahir dari obsesi manusia itu sendiri—takut menjadi tua, takut ditinggalkan, takut kehilangan identitas.

Relevansi di Masyarakat Modern

Tema yang diangkat Sukma terasa sangat relevan di tengah masyarakat Indonesia saat ini, di mana industri kecantikan, tren media sosial, dan standar penampilan sering kali menekan individu, khususnya perempuan. Obsesi akan “awet muda” bukan hanya fenomena global, tetapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita.

Kesimpulan

Dengan sinematografi yang mencekam, alur cerita yang penuh misteri, serta akting kuat dari para pemain utamanya, Sukma berhasil tampil sebagai horor psikologis yang berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia. Ia tidak hanya menghadirkan rasa takut, tetapi juga mengajak penonton merenung tentang bahaya obsesi terhadap kecantikan dan keabadian.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments