Dalam deretan film horor Indonesia terbaru tahun 2025, Jalan Pulang hadir membawa ekspektasi tinggi. Sejak pertama kali diumumkan, film ini sudah mengundang banyak perhatian publik. Tak hanya karena mengusung tema supranatural yang masih menjadi daya tarik utama perfilman tanah air, tapi juga karena melibatkan deretan nama besar seperti Luna Maya, Shareefa Daanish, dan Taskya Namya—tiga aktris yang kerap disebut sebagai “ratu horor Indonesia”.
Namun, seperti halnya perjalanan menuju rumah yang tak selalu mulus, film Jalan Pulang 2025 pun menemui jalan berliku dalam proses penyajiannya.
Sinopsis Jalan Pulang: Perjuangan Seorang Ibu di Tengah Batas Dunia
Film ini mengisahkan Lastini (Luna Maya), seorang ibu yang dilanda keputusasaan setelah putrinya, Arum (Saskia Chadwick), menderita penyakit aneh yang diyakini berasal dari kekuatan gaib. Tak kunjung menemukan solusi dari dunia medis, Lastini bersama kedua anak lainnya, Lia (Taskya Namya) dan Rama (Raffan Al Aryan), menempuh perjalanan untuk mencari pertolongan dari jalur spiritual.
Tapi waktu mereka terbatas. Arum diyakini hanya memiliki waktu hingga ulang tahunnya yang jatuh di tanggal 29 Februari—hari langka dalam tahun kabisat. Perjalanan menyusuri ritual, dukun, dan misteri masa lalu menjadi inti dari film ini.
Ekspektasi yang Tinggi, Kenyataan yang Tidak Sejalan
Dengan jajaran pemain berkelas dan promosi yang masif, banyak yang berharap Jalan Pulang menjadi titik balik atau bahkan standar baru untuk film horor Indonesia 2025. Sayangnya, film ini tidak sepenuhnya mampu menjawab ekspektasi tersebut.
Meski menghadirkan sinopsis yang menjanjikan, film ini justru terjebak dalam pola cerita yang terlalu familiar. Gimmick soal “ultimatum tahun kabisat” yang seharusnya menjadi pemantik ketegangan justru terasa tempelan—tidak memberikan bobot dramatik maupun urgensi yang benar-benar berarti dalam alur cerita.
Aset Terbesar Film: Pemeran dan Premis
Dari sisi akting, tak bisa dimungkiri bahwa performa Luna Maya sebagai Lastini sangat kuat. Ia berhasil menampilkan karakter ibu yang kelelahan secara fisik dan mental, tetapi tetap berjuang demi anaknya. Shareefa Daanish, seperti biasa, mampu menyuntikkan aura mistis hanya lewat ekspresi dan gestur minim dialog. Taskya Namya pun tampil solid sebagai kakak yang rasional dan penuh empati.
Namun sayangnya, kekuatan aktor ini tidak didukung dengan naskah dan penyutradaraan yang menggugah. Plot terasa datar, konflik emosional kurang terbangun, dan beberapa adegan horor lebih terasa sebagai formalitas dibanding pengembangan atmosfer.
Teknik Sinematografi: Efek Visual Tanpa Jiwa
Secara visual, Jalan Pulang mencoba bermain di wilayah warna gelap, kabut pekat, dan tata suara mendadak yang sudah menjadi template klasik film horor lokal. Tapi justru di sanalah letak masalahnya: film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru. Alih-alih menyuguhkan teror psikologis yang menggigit atau ketegangan yang mendalam, kita disuguhi jump scare yang bisa ditebak dan alur yang berjalan tanpa kejutan berarti.
Kesimpulan: Jalan yang Belum Selesai Ditempuh
Film Jalan Pulang memiliki potensi besar untuk menjadi horor yang bukan hanya menyeramkan, tetapi juga menyentuh secara emosional. Sayangnya, potensi itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Film ini seolah berputar-putar dalam formula yang sama, tanpa arah yang benar-benar kuat untuk membawa penonton menuju “rumah” cerita yang memuaskan.
Bagi Anda penikmat film horor Indonesia yang mencari sensasi baru atau perspektif berbeda, Jalan Pulang mungkin akan terasa mengecewakan. Namun, bagi yang sekadar ingin melihat performa tiga bintang horor lintas generasi dalam satu layar, film ini masih layak disimak—setidaknya sekali.