Saturday, February 14, 2026
HomeFilmRisa Saraswati di Tenung

Risa Saraswati di Tenung

Film horor Indonesia selalu menghadirkan daya tarik tersendiri bagi para penonton, terutama bagi mereka yang gemar menantang keberanian di layar lebar. Salah satu film yang mencuri perhatian pada tahun 2025 ini adalah Tenung, yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. Berdasarkan novel karya Risa Saraswati dan Dimas Tri Aditiyo (Dimasta), film ini mengangkat tema horor yang kental dengan unsur budaya lokal Indonesia. Namun, seperti halnya film horor lainnya, Tenung tak luput dari kontroversi dan berbagai pendapat yang terbagi di kalangan audiens.

Plot dan Nuansa Horor Lokal yang Kental

Tenung mengisahkan Ira, seorang wanita muda yang berusaha merawat ibunya, Linda, yang menderita gangguan mental akibat ilmu hitam. Kisah ini berkembang dengan munculnya fenomena aneh saat jenazah sang ibu dilompati oleh seekor kucing hitam saat pemakaman. Dalam mitos lokal, kejadian tersebut dianggap sebagai pertanda buruk, yang akhirnya mengantarkan Linda kembali hidup dalam bentuk yang tak wajar, membawa teror bagi orang-orang di sekitarnya. Di balik tema horornya, film ini juga menggambarkan kisah emosional tentang hubungan ibu dan anak, serta bagaimana mitos dan takhayul menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Salah satu kekuatan terbesar film ini terletak pada keberhasilannya dalam menyajikan atmosfer horor yang mencekam, serta penggunaan mitos lokal yang jarang diangkat dalam film horor mainstream. Konsep kucing hitam dan ilmu hitam, yang banyak dikenal di berbagai daerah Indonesia, berhasil dipadukan dengan elemen-elemen supranatural yang menggugah ketegangan, membuat penonton merasa terhanyut dalam nuansa mistis yang ditawarkan.

Pemeran dan Karakter yang Menonjol

Keberhasilan Tenung juga tak lepas dari kontribusi para pemerannya, terutama Aisyah Aqilah yang memerankan Ira, tokoh utama yang berusaha menghadapi teror yang datang dari ibunya yang telah meninggal. Aisyah memberikan performa yang cukup solid, menyampaikan kesedihan dan rasa takut dengan sangat intens. Begitu juga dengan Seroja Hafiedz yang memerankan Linda, ibu Ira, yang berhasil menciptakan kesan menyeramkan meskipun karakter ini tidak banyak tampil secara fisik.

Namun, di balik kelebihan ini, ada beberapa kelemahan dalam pengembangan karakter. Beberapa penonton mengkritik bahwa karakter-karakter dalam film ini kurang memiliki kedalaman, dan konflik emosional yang dihadirkan terasa kurang kuat untuk menggerakkan penonton secara maksimal. Konflik antara Ira dan Linda, yang seharusnya menjadi inti dari cerita, tampak tidak cukup digali secara mendalam, sehingga membuat penonton kesulitan untuk benar-benar terhubung dengan emosi yang ingin disampaikan film ini.

Kelebihan dan Kekurangan dari Aspek Teknis

Secara teknis, Tenung berhasil menciptakan atmosfer yang mendalam dengan penggunaan sinematografi yang memadai. Adegan-adegan malam yang gelap, dipadukan dengan pencahayaan yang minim, mampu menciptakan nuansa horor yang tepat. Namun, di sisi lain, beberapa elemen teknis seperti efek visual dan penggunaan suara terkadang terasa kurang maksimal. Beberapa penonton merasa bahwa efek-efek tersebut tidak cukup mengimbangi ketegangan cerita, dan malah terasa kurang menyatu dengan alur film. Pada beberapa momen, tempo cerita yang lambat juga menjadi keluhan, mengingat bahwa horor yang digelar di layar lebar seharusnya memiliki irama yang lebih cepat agar ketegangan terus terjaga.

Keberanian untuk menghadirkan unsur budaya lokal, seperti ilmu hitam dan mitos kucing hitam, disambut dengan positif. Banyak yang merasa bahwa film ini menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan film horor Indonesia pada umumnya, yang sering kali bergantung pada cerita-cerita klise.

Namun, di sisi lain, kritik mengenai plot yang terkesan lamban dan kurang menggugah emosi banyak terdengar. Seperti yang diungkapkan dalam sebuah diskusi di grup Review Film Terbaik 2025 di Facebook, beberapa penonton merasa bahwa film ini lebih cocok untuk mereka yang menginginkan horor yang lebih subtel, namun kurang cocok bagi mereka yang menginginkan ketegangan yang lebih intens. Ini menunjukkan adanya celah pasar yang dapat dimanfaatkan oleh film-film horor Indonesia di masa depan, yaitu menggabungkan mitos lokal dengan eksekusi yang lebih mendalam dan terstruktur, serta menjaga tempo cerita agar lebih menarik.

Kesimpulan: Potensi Besar dengan Beberapa Kekurangan

Tenung adalah film horor Indonesia yang memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh di dunia perfilman. Keberaniannya untuk mengangkat tema budaya lokal memberikan warna baru di genre horor tanah air. Namun, seperti kebanyakan film horor lainnya, film ini masih menghadapi tantangan dalam hal eksekusi cerita dan pengembangan karakter. Meskipun demikian, dengan sedikit penyempurnaan pada aspek teknis dan penggalian lebih dalam pada aspek emosional, Tenung bisa menjadi salah satu film horor yang patut diperhitungkan di masa depan.

Sebagai penonton, Tenung adalah pengalaman horor yang patut dicoba, terutama bagi mereka yang tertarik dengan mitos lokal dan ingin melihat bagaimana budaya Indonesia dapat digali lebih dalam dalam konteks horor. Bagi Anda yang menginginkan ketegangan tinggi dan kejutan yang lebih eksplosif, film ini mungkin belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi tersebut. Namun, tak dapat dipungkiri, Tenung adalah langkah maju yang menjanjikan untuk perfilman horor Indonesia.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments