Saturday, February 14, 2026
HomeFilmSayap-Sayap Patah 2: Olivia

Sayap-Sayap Patah 2: Olivia

Dalam dunia perfilman Indonesia, hanya segelintir judul yang mampu menggabungkan dramatisasi keluarga dan isu sosial dengan daya ledak emosional yang kuat. Sayap-Sayap Patah 2: Olivia adalah salah satunya—sebuah sekuel yang berdiri sendiri namun tetap terhubung pada semesta naratif dari film pertamanya. Film ini disutradarai oleh Ferry Pei Irawan dan dibintangi oleh Arya Saloka sebagai Pandu, seorang anggota Densus 88 yang harus menjalani hidup sebagai ayah tunggal. Kehidupannya berubah drastis ketika Leong, mantan teroris yang pernah memicu kerusuhan besar, dibebaskan dari penjara. Di tengah tekanan tugas negara dan kerumitan emosional Olivia yang masih bergelut dengan kehilangan ibunya, Pandu terjebak dalam dua dunia yang sama-sama menuntut kehadirannya secara utuh.

Dari awal hingga akhir, film ini mencoba menarik perhatian penonton melalui relasi ayah dan anak yang dibangun dengan menyentuh. Arya Saloka tampil memikat sebagai Pandu—tegas di lapangan namun lembut dan canggung sebagai ayah tunggal. Di sisi lain, Myesha Lin sebagai Olivia memberikan performa yang tidak kalah menawan, menghadirkan sisi polos dan rapuh anak-anak dalam menghadapi duka. Chemistry antara keduanya menjadi jantung emosional film ini, bahkan lebih kuat dari elemen aksi yang mengitarinya.

Namun, seiring berjalannya cerita, muncul satu demi satu tantangan yang harus dihadapi penonton. Karakter antagonis Leong, diperankan oleh Iwake, kembali dengan aura gelap yang khas. Menariknya, dalam film ini ia dipasangkan secara naratif dengan putranya, Askar, yang diperankan oleh Juan Bio One. Dinamika keduanya menjanjikan konflik emosional mendalam, namun pengembangan karakter Askar terasa terlalu cepat dan tidak diberi ruang napas yang cukup. Perubahan mendadaknya dari remaja pendiam menjadi sosok yang terlibat dalam aksi balas dendam besar terasa janggal dan mengorbankan kredibilitas naratif.

Film ini memang menyuguhkan sejumlah momen yang dramatis dan menyentuh. Adegan-adegan seperti Pandu yang mulai kehilangan komunikasi dengan Olivia karena tuntutan pekerjaan, atau saat Askar mendapati rumahnya kosong pasca kepergian ayahnya, berhasil mengaduk emosi penonton. Bahkan dalam kesunyian, film ini mampu menyampaikan kehampaan yang dalam. Namun di sisi lain, banyak bagian cerita yang terasa tergesa-gesa dan penuh kebetulan. Bebasnya Leong dari penjara, tanpa alasan logis yang memadai, serta kebetulan demi kebetulan lain seperti kemampuan instan Askar dalam merakit bom, menjadikan narasi film ini kurang solid dan mudah ditebak.

Sebagai film yang terinspirasi dari peristiwa nyata pengeboman gereja di Samarinda tahun 2016, Sayap-Sayap Patah 2: Olivia memiliki muatan sosial yang penting. Namun, beban tema yang berat ini terkadang tergelincir menjadi pencitraan berlebihan terhadap institusi tertentu. Kesan bahwa film ini ingin memperlihatkan sisi “sempurna” aparat negara terlalu dominan, hingga menyisakan ruang kritik dari penonton yang menginginkan realisme dan kedalaman cerita yang lebih jujur.

Aktor-aktor pendukung seperti Nugi dan Iwake memberikan performa yang cukup solid, meskipun duet mereka kali ini tidak sekuat film pertama. Pengembangan karakter terasa setengah hati, dan beberapa percakapan penting yang seharusnya menggali ideologi atau trauma para tokohnya malah disajikan datar. Untungnya, unsur sinematik seperti penggunaan musik, beberapa pengambilan gambar sunyi, dan visual tertentu mampu menyelamatkan momen-momen dramatis film ini dari kesan teatrikal yang berlebihan.

Sayap-Sayap Patah 2: Olivia mungkin bukan film sempurna, tetapi ia berani menyuarakan hal yang tidak mudah: luka, kehilangan, dan cinta yang tertahan oleh tanggung jawab. Sebuah film yang ditujukan untuk para penikmat drama keluarga dengan latar belakang aksi, namun juga mengingatkan kita akan betapa sulitnya menjadi manusia biasa di tengah dunia yang menuntut lebih. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, film ini tetap menawarkan pengalaman emosional yang cukup untuk meninggalkan kesan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments