Film Pabrik Gula (2025) produksi MD Pictures menjadi salah satu film horor lokal yang paling ramai dibicarakan tahun ini. Sejak sebelum tayang, film ini sudah dikelilingi hype besar berkat nama SimpleMan, promosi yang masif, dan klaim hadirnya versi “uncut 21+” yang membuat publik penasaran.
Namun setelah rilis, respons penonton justru terbelah: ada yang memuji atmosfernya, ada pula yang merasa film ini hanya terbantu oleh gimmick promosi dan momentum tayang saat libur Idul Fitri. Lalu sebenarnya, apakah Pabrik Gula benar-benar layak ditonton?
Sinopsis Film Pabrik Gula
Para pekerja musiman yang datang ke pabrik gula tahun itu adalah Endah (diperankan oleh Ersya Aurelia), Fadhil (diperankan oleh Arbani Yasiz), Dwi (diperankan oleh Moch. Arif Alfiansyah), Hendra (diperankan oleh Bukie B. Mansyur), Wati (diperankan oleh Wavi Zihan), Ningsih (diperankan oleh Erika Carlina), dan Franky (diperankan oleh Benidictus Siregar). Mereka datang dari berbagai desa sekitar untuk bekerja sebagai buruh musiman, sebagaimana tradisi tahunan pabrik gula yang selalu membutuhkan tenaga tambahan untuk mempercepat proses penggilingan tebu selama musim panen. Pada awalnya, segala sesuatu tampak berjalan normal: pekerjaan rutin, ritme kerja padat, dan dinamika sesama buruh yang terasa wajar.
Namun semuanya berubah ketika suatu malam Endah terbangun dan seperti berada dalam kondisi tidak sadar, meninggalkan tempat tinggalnya untuk mengikuti sosok misterius yang muncul di sekitar area pabrik. Kejadian itu menjadi awal dari serangkaian teror yang semakin meningkat hari demi hari. Para pekerja satu per satu mulai mengalami hal-hal ganjil: kecelakaan kerja yang tidak masuk akal menimpa salah satu buruh musiman, hingga kematian tragis seseorang di sumur belakang pabrik yang membuat suasana semakin mencekam.
Dalam upaya memahami apa yang sebenarnya terjadi, mereka perlahan menemukan fakta bahwa pabrik tua tersebut ternyata berdampingan langsung dengan kerajaan setan. Ada sesuatu—entah akibat pelanggaran, kemarahan, atau gangguan manusia—yang membuat para makhluk gaib itu murka. Kini, mereka menuntut balasan, dan bayaran yang mereka inginkan adalah nyawa para pekerja yang terjebak dalam pabrik.
Marketing “Versi Uncut 21+”: Efektif namun Kontroversial
Sebelum dirilis, Pabrik Gula besutan Awi Suryadi mencuri perhatian publik. Reputasi SimpleMan sebagai penulis cerita viral, pengalaman MD Pictures dalam memproduksi horor box-office, serta trailer dengan nuansa industrial-horror membuat ekspektasi meningkat.
Strategi rilis di masa libur Idul Fitri juga menguntungkan, sebab momen tersebut selalu menjadi puncak kunjungan ke bioskop. Faktor ini memicu gelombang FOMO di kalangan penonton.
Promosi besar-besaran mengenai versi jam merah dan adegan uncut membuat film ini cepat viral. Penonton datang dengan ekspektasi tinggi untuk melihat sesuatu yang lebih berani dari horor lokal pada umumnya.
Dari sisi marketing, strategi ini efektif meningkatkan rasa penasaran.
Namun dari sisi penonton, gimmick ini justru menjadi bumerang karena adegan yang dimaksud tidak sebesar hype yang dibangun. Banyak yang merasa film ini lebih menjual sensasi daripada ceritanya.
Kenapa Banyak yang Kecewa Setelah Menonton?
Banyak penonton merasa kecewa setelah menonton Pabrik Gula karena ekspektasi yang terlanjur tinggi tidak sebanding dengan pengalaman yang mereka dapatkan di layar. Sebagian besar menilai bahwa alur ceritanya terasa sangat mirip dengan KKN di Desa Penari, terutama karena formula khas SimpleMan yang masih menonjol: adanya tempat terlarang, aturan mistis, pelanggaran, dan teror dari entitas penjaga. Pola ini membuat cerita terasa familiar dan kurang menghadirkan kejutan baru. Selain itu, ritme film di bagian tengah dianggap berjalan lambat dan repetitif. Beberapa adegan teror muncul tanpa perkembangan konflik yang berarti sehingga penonton merasa alurnya tidak bergerak secara dinamis.
Kekecewaan semakin besar karena strategi marketing yang terlalu fokus pada “versi uncut 21+”. Banyak penonton datang dengan rasa penasaran yang tinggi terhadap adegan yang dipromosikan, namun apa yang mereka lihat ternyata tidak sebesar atau seintens ekspektasi yang dibangun. Akibatnya, sebagian orang merasa film ini lebih mengandalkan gimmick promosi daripada kekuatan cerita itu sendiri. Gabungan antara narasi yang familiar, pacing yang kurang stabil, dan promosi yang berlebihan inilah yang akhirnya membuat banyak penonton merasa bahwa Pabrik Gula tidak sepenuhnya memenuhi hype besar yang mengiringinya sejak awal rilis.
Analisis Objektif Kualitas Film
Secara objektif, Pabrik Gula merupakan film horor yang kuat dari sisi teknis, tetapi tidak sepenuhnya solid dalam aspek naratif. Keunggulan film ini terletak pada atmosfer industrial-horror yang dibangun dengan sangat baik. Setiap sudut pabrik, mulai dari mesin tua, lorong sempit, hingga ruang penggilingan tebu, terasa hidup dan mencekam. Sinematografi yang gelap dan dingin berpadu dengan desain suara yang intens, membuat suasana pabrik tampak seperti karakter utama yang mengawasi setiap langkah para tokohnya. Di balik teror tersebut, film ini juga menyisipkan kritik sosial tentang eksploitasi buruh, warisan kolonialisme, dan dinamika kekuasaan di industri gula, memberikan lapisan makna yang lebih dalam daripada sekadar horor hiburan.
Namun, kekuatan teknis tersebut tidak sepenuhnya diimbangi oleh kualitas cerita. Banyak penonton menilai bahwa alurnya terasa familiar, menggunakan pola yang mirip dengan karya SimpleMan lainnya. Karakter-karakternya pun kurang mendapatkan pendalaman emosional yang memadai, sehingga keterikatan penonton terhadap nasib mereka menjadi terbatas. Ekspektasi yang terlanjur tinggi akibat promosi besar-besaran—terutama mengenai versi uncut 21+—juga membuat penilaian terhadap film menjadi bias. Akhirnya, Pabrik Gula tampak seperti film yang lebih menonjolkan atmosfer dan visual daripada kekuatan karakter dan narasi. Meski begitu, sebagai pengalaman horor, film ini tetap memberikan sensasi menegangkan yang layak dinikmati, terutama bagi penonton yang menghargai produksi teknis dan suasana mencekam.
Kesimpulan
Pabrik Gula adalah film horor lokal yang kuat secara teknis dan atmosfer, tetapi terseret ekspektasi berlebihan akibat hype dan strategi marketing. Meski begitu, film ini tetap menarik sebagai fenomena budaya pop Indonesia dan layak kamu tonton setidaknya sekali—agar kamu bisa menilai sendiri apakah hype-nya memang sebanding dengan kualitasnya.